Benarkah Gajah Mada Pemeluk Islam?

Ini gelar resmi pria tersebut: rakyan san mantri mukyapatih i Majapahit sang praneleng kadatwan. Maknanya: rakian sang perdana menteri patih Majapahit, perantara keraton.

Mpu Prapanca, penulis Nagarakretagama, melukiskan sosoknya sebagai, “…seorang menteri bijaksana, setia bakti pada raja, fasih bicara, jujur, pandai, tenang, teguh tangkas, tegas, tangan kanan maharaja yang melindungi hidup penggerak dunia.”

Khalayak ramai sekarang jauh lebih mengenalnya sebagai Gajah Mada, mahapatih yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaan. Beberapa hari ini, media sosial hiruk pikuk lagi dengan kabar bahwa Gajah Mada beragama Islam.

Bahwa ada segelintir kaum muslim di lingkungan Majapahit, sejumlah makam di Trowulan membuktikan. Tapi raja dan para pejabat kerajaan sama sekali tak pernah disebut memeluk Islam.

Berdasarkan sumber tertulis seperti Pararaton dan Nagarakretagama, Siwa (cabang dari Hindu) dan Buddha merupakan agama resmi kerajaan. Raja-raja Majapahit umumnya beragama Siwa, kecuali Tribuana Tunggadewi, ibunda Hayam Wuruk, yang beragama Buddha.

Nagarakretagama mencatat, tulis Slamet Muljana dalam Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit, pejabat resmi keagamaan di Majapahit ada dua. Yaitu dharmadyaksa ring kasaiwan (pejabat tinggi Siwa) dan dharmadyaksa ring kasogatan (petinggi besar Buddha).

Majapahit banyak mewariskan tempat-tempat suci, lokasi ritual pada masa itu. Bentuknya candi, pemandian, dan gua-gua pertapaan. Bangunan-bangunan suci di Majapahit ini kebanyakan dibangun penganut Siwa dan sebagian kecil didirikan pemeluk Buddha.

Dalam Nagarakratagama tertulis, “…tersebutlah dukuh kasogatan Madakaripura dengan pemandangan yang indah, tanahnya anugerah Baginda kepada Gajah Mada”.

Dengan dibubuhkannya “kasogatan”, sejumlah pakar percaya bahwa Gajah Mada adalah pemeluk Buddha

Di luar itu semua, Gajah Mada bukan pemuka agama. Ia adalah konseptor politik dan pengendali pemerintahan Majapahit.

Ia terkenal dengan Sumpah Palapa: tekad untuk mempersatukan wilayah-wilayah Nusantara di bawah otoritas Majapahit. Program itu berlangsung selama 21 tahun, dari tahun Saka 1258 (1336 Masehi) sampai 1279 (1357 Masehi).

Ketika Gajah Mada wafat pada tahun Saka 1286 setelah sakit keras, istana Majapahit berunding demi mencari pengganti. Hasilnya diputuskan: Gajah Mada tak tergantikan. Hayam Wuruk memimpin langsung roda pemerintahan sehari-hari.

“Demikianlah kegemilangan Majapahit…pada hakikatnya adalah sejarah kehidupan patih amangku bumi Gajah Mada,” tulis Slamet Muljana, guru besar filologi itu.