Harga Minyak Merangkak Naik dari Posisi Terendah Sepanjang 2017

Harga minyak melambung pada akhir perdagangan Jumat (Sabtu pagi waktu Jakarta) dari posisi terendah sepanjang tahun ini. Kenaikan harga minyak tersebut dipicu langkah pengurangan ekspor para negara produsen minyak dan perlambatan penambahan sumur pengeboran di Amerika Serikat (AS).

Mengutip Reuters, Sabtu (17/6/2017), harga minyak mentah Brent yang merupakan patokan harga dunia naik 45 sen menjadi US$ 47,37 per barel dan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menetap di US$ 44,74 per barel, naik 28 sen. Kedua patokan harga minyak tersebut mencatat kerugian mingguan melebihi 1,6 persen.

Pada perdagangan sebelumnya atau pada Kamis, harga minyak berada di posisi terendah sepanjang 2017. Kesepakatan dari negara-negara yang tergabung dalam organisasi eksportir minyak tidak berpengaruh kepada harga minyak.

Sebelumnya, organisasi negara eksportir minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) sepakat untuk memperpanjang kesepakatan menahan produksi.

Dalam kesepakatan awal langkah pemangkasan produksi berlangsung selama enam bulan dari Januari hingga Juni 2017. Dalam kesepakatan berikutnya ditambah selama sembilan bulan dari Juli 2017 hingga Maret 2018.

Analis komoditas U.S. Bank Wealth Management Rob Haworth menjelaskan, kesepakatan OPEC tidak memberikan dampak yang cukup signifikan karena memang permintaan akan minyak belum mengalami kenaikan.

Para pelaku pasar melihat bahwa harga minyak akan cenderung berada di level rendah dalam waktu lama. “Sepertinya arah harga minyak tidak seperti yang diharapkan di awal,” jelas dia.

Banyak yang berharap harga minyak akan merangkak naik usai adanya kesepakatan pembatasan produksi OPEC yang dilakukan pada akhir tahun lalu. Namun ternyata harga minyak masih berada di kisaran yang sama.

Oleh sebab itu, sebagian besar pelaku pasar mulai pesimistis dan melihat bahwa harga minyak telah mencapai keseimbangan baru dan akan berada di level yang cukup rendah dalam jangka waktu yang lama.